Temuan Pemanfaatan Babi Astrazeneca, Ini Kata Lppom Mui

Temuan Pemanfaatan Babi Astrazeneca, Ini Kata Lppom Mui

Meski demikian, MUI tetap menyampaikan saran khusus kepada pemerintah terkait produk dan jenis vaksin yang bakal digunakan pemerintah untuk vaksinasi kepada masyarakat. Asrorun mengatakan, MUI meminta pemerintah secara wajib, terus mengikhtiarkan ketersediaan vaksin COVID-19 yang halal dan suci. KONTAN.CO.ID -JAKARTA. Ketua bidang Fatwa Majelis Ulama Indonesia , Asrorun Niam Sholeh mengatakan, vaksin Covid-19 produk AstraZeneca hukumnya haram karena dalam tahapan proses produksinya memanfaatkan tripsin .

Vaksin Astrazeneca babi

Ia juga mencontohkan Badan Otoritas Obat world di Inggris, Swedia, Australia, dan Kanada yang tetap menjalankan vaksinasi walaupun telah menerima informasi kasus serius yang diduga terkait vaksin AstraZeneca tersebut. “Umat Islam Indonesia wajib berpartisipasi dalam program vaksinasi covid-19 yang dilaksanakan oleh pemerintah untuk mewujudkan kekebalan kelompok dan terbebas dari wabah covid-19,” imbaunya. Hal itu juga diungkapkan Ketua Majelis Ulama Indonesia bidang Fatwa, Asrorun Niam Sholeh menyatakan Vaksin AstraZeneca mengandung tripsin babi alias haram. “Umat Islam Indonesia, wajib berpartisipasi dalam program vaksinasi COVID-19 yang dilaksanakan pemerintah untuk mewujudkan kekebalan kelompok dan terbebas dari wabah COVID-19,” kata dia.

Selanjutnya, pada tanggal 17 Maret 2021, fatwa tersebut diserahkan kepada penerintah untuk dijadikan panduan penggunaan vaksinnya. Selama itu tidak melanggar akidah, intiny, boleh,” jelas epidemiolog tersebut. Epidemiolog dari Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Airlangga Atoillah Isfandi menjelaskan ada tiga hal yang menjadi pertimbangan haram atau tidaknya suatu vaksin. Sebelumnya, BPOM menyarankan untuk tidak dulu menggunakan vaksin Covid-19 AstraZeneca karena masih dilakukannya beberapa kajian. Harianjogja.com tak hanya menghadirkan kabar seputar Jogja namun informasi nasional dan international.

Kumpulan vaksin itu tidak akan digunakan untuk sementara sampai pengujian toksisitas dan sterilitas oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan selesai menyusul adanya dua kematian di Jakarta yang diduga terkait vaksin tersebut. ”Kami masih menunggu petunjuk selanjutnya dari Kementerian Kesehatan,” kata Steaven. “Tidak mengherankan, saat ini kami sedang mencari mitra untuk menyelidiki potensi kandidat vaksin SADS-CoV untuk melindungi babi,” kata Baric. “Tidak mungkin untuk memprediksi apakah virus ini, atau strain kelelawar HKU2 yang berkerabat dekat, dapat muncul dan menginfeksi populasi manusia. Namun, jangkauan luas host SADS-CoV, ditambah dengan kemampuan untuk bereplikasi di paru-paru manusia primer dan sel-sel enterik, menunjukkan potensi risiko untuk peristiwa kemunculan di masa depan pada populasi manusia dan hewan. Edwards, penulis pertama studi tersebut, menguji beberapa jenis sel dengan menginfeksi mereka dengan bentuk sintetis SADS-CoV untuk memahami seberapa tinggi risiko kontaminasi lintas spesies.

Alhasil, masyarakat pun harus mengadopsi pola pengolahan daging babi yang tepat. Atas temuan itu, Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Badung I Wayan Wijana berharap petani tidak kesal. MANGUPURA – Lima warga Desa Adat Samu, Banjar Samu, Desa Mekar Bhuana, Kabupaten Abiansemal, Badung, dilarikan ke RSUD Mangusada usai menyantap daging babi olahan.

Comments are closed.