Ribka Tjiptaning Tolak Vaksin

Ribka Tjiptaning Tolak Vaksin

Seluruh muatan yang terkandung dalam vaksin itu dipastikan aman dan sesuai standar internasional. Dari segi kesiapan kesehatan jamaah haji, kata Khoirizi, Kemenkes terus melakukan proses vaksinasi untuk jamaah haji. “Laporan yang diterima sampai saat ini, uji klinis berjalan dengan lancar dan tidak diperoleh laporan efek yang berat. “Tidak mungkin untuk memprediksi apakah virus ini, atau pressure kelelawar HKU2 yang berkerabat dekat, dapat muncul dan menginfeksi populasi manusia. Namun, jangkauan luas host SADS-CoV, ditambah dengan kemampuan untuk bereplikasi di paru-paru manusia primer dan sel-sel enterik, menunjukkan potensi risiko untuk peristiwa kemunculan di masa depan pada populasi manusia dan hewan. Laboratorium Baric bekerja dengan Caitlin Edwards, seorang spesialis penelitian dan master mahasiswa kesehatan masyarakat di UNC-Chapel Hill, dalam penelitian yang menunjukkan bahwa manusia mungkin rentan terhadap limpahan SADS-CoV.

Vaksin Sinovac babi

Ini dikarenakan secara syariat Babi dan semua produk turunannya dihukumi Haram. Misalnya, Larangan konsumsi babi dalam Islam bukan karena dagingnya mengandung cacing pita, tapi memang semata-mata untuk menguji ketaatan dan keikhlasan umatnya. Menag Yaqut Cholil Qoumas menegaskan vaksin COVID-19 dari Sinovac halal dan suci dari kandungan yang memanfaatkan intifa’ atau intifa’ babi atau bahan yang tercemar babi dan turunannya.

Dikutip dari medcom.id, klaim Vaksin Corona dari Tiongkok mengandung babi adalah salah. “MUI pernah mengeluarkan fatwa tentang produk microbial. Prinsipnya, selama media itu dipisahkan dari produk akhirnya dan selama ada proses pensucian, maka diperbolehkan. Misalnya ada serum darah atau tripsin yang berasal dari bahan najis,” ujarnya. Untungnya, kata Muti, vaksin Covid-19 yang sudah didistribusikan di Indonesia sejauh ini tidak mengandung babi. Muti mengatakan, proses sertifikasi halal yang akan diberikan MUI ke Vaksin Covid-19 memang masih dalam proses, tapi MUI belum menemukan kandungan babi sama sekali. Kemudian, diklaim juga bahwa vaksin Sinovac yang dikembangkan untuk menangkal Covid-19 mengandung babi.

Namun, Ketua MUI Pusat Bidang Fatwa H Asrorun Niam Sholeh menyatakan bahwa proses penghalalan vaksin telah diawali dengan pemeriksaan bahan dan proses produksi. “Keempat, menggunakan fasilitas produksi yang suci, dan hanya digunakan untuk produk vaksin Covid-19,” paparnya. Yang kedua, tidak memanfaatkan bagian tubuh manusia atau jus minal insan. Vaksin juga tidak bersentuhan dengan najis mutawasitah, sehingga dihukumi mutanajis.

Berbeda dengan kehadiran vaksin covid-19 sebelumnya, Sinovac produk Sinovac Life Science Co. Semuanya berawal dari keluarnya Fatwa MUI Pusat nomor 14 tahun 2021 tentang hukum penggunaan vaksin covid-19 produk AstraZeneca yang berasal dari Inggris dan diproduksi di SK Bioscience Co. Liputan6.com, Jakarta – Perusahaan farmasi AstraZeneca menyatakan bahwa vaksin COVID-19 yang mereka kembangkan tidak bersentuhan dengan produk turunan babi atau produk hewani lainnya. Memahami vaksinasi dalam penanganan Pandemi, publik selayaknya bersepakat bahwa tujuan vaksinasi maupun produksinya tidak ditujukan untuk tujuan haram. Menurut Atoillah, dengan pendekatan kaidah jurisprudensi Islam menurut madzhab Syafi’i yang pertama, yaitu Qo’idah “an-Niyyat”, atau tujuan pembuatan, menurut saya sudah terpenuhi. Cara membuat vaksin yang haram adalah misalnya dengan harus membunuh manusia lain.

“Kedua, sebagaimana diktum pertama, vaksin Sinovac boleh digunakan untuk umat Islam sepanjang terjamin keamanannya menurut ahli,” tambahnya. Kabar yang menggegerkan juga soal kejadian di Pondok Pesantren Madinatul Ulum, Jember, yang mengatakan ratusan santri terkapar usai disuntik vaksin covid-19. Walaupun, ternyata itu dokumentasi 2018 setelah mereka disuntik vaksin difteri. Nanung mengingatkan, banyak negara seperti Singapura, Chili, Filipina, Turki, dan Brasil yang juga memesan vaksin Sinovac.

Oleh karena itu, Wakil Presiden Ma’ruf Amin meminta Majelis Ulama Indonesia segera menyiapkan fatwa soal vaksin COVID-19. Menurutnya, Fatwa MUI soal vaksin COVID-19 sangat penting karena dinilai dapat memberi jawaban atas permasalahan yang terjadi dari perspektif hukum Islam. Baiklah, sebagai bangsa yang punya ‘falsafah’ kalau bisa dibikin repot untuk apa dibuat simpel, kita pun berepot-repot dahulu demi berhalal-halal kemudian.

Majelis Ulama Indonesia pusat yang menyatakan status hukum haram vaksin AstraZeneca karena bahannya mengandung tripsin babi. Meskipun, MUI tetap menoleransi kebolehan penggunaan vaksin AstraZeneca dalam kondisi darurat. “Vaksin Covid-19 produk AstraZeneca hukumnya haram karena di dalam tahapan proses produksinya memanfaatkan tripsin yang berasal dari babi,” isi ketentuan hukum yang tertulis dalam fatwa tersebut. Selain bahan dan sumber bahan maka yang menjadi titik kritis kehalalan vaksin produk Sinovac adalah pada fasilitas dan peralatan produksi.

Comments are closed.