Penggunaan Vaksin Astrazeneca Batch Ctmav547 Dihentikan, Satgas Covid

Penggunaan Vaksin Astrazeneca Batch Ctmav547 Dihentikan, Satgas Covid

Mengenai penggunaan vaksin dari AstraZeneca, Eri mengatakan, Majelis Ulama Indonesia Jawa Timur sudah menyatakan bahwa produk vaksin itu bisa digunakan untuk vaksinasi. , JAKARTA – Badan Pengawas Obat dan Makanan telah menerbitkan izin penggunaan darurat untuk vaksin Covid-19 buatan Inggris, AstraZeneca. Sejumlah negara saat ini berlomba untuk membuat vaksin yang dapat melawan covid-19, bahkan beberapa vaksin sudah mendapat persetujuan penggunaan darurat oleh Organisasi Kesehatan Dunia dan mulai disuntikkan ke masyarakat umum. Termasuk soal regulasi penggunaan vaksin Covid-19 bagi masyarakat luas, khususnya warga DKI Jakarta.

Mengutip keterangan WHO, vaksin AstraZeneca yang diberikan 2 dosis dengan interval 8-12 pekan memiliki tingkat efikasi 63,09 persen untuk menangkal infeksi Covid-19. Dengan demikian, vaksin produksi Sinovac memiliki tingkat kemanjuran yang lebih tinggi dibandingkan dengan vaksin buatan AstraZeneca. MHRA mengatakan sekitar empat dari sejuta orang bisa mengalami pembekuan darah. Sementara itu, regulator obat-obatan Inggris itu mengatakan belum terbukti suntikan vaksin menyebabkan pembekuan.

Vaksin Astrazeneca buatan mana

Menurut Reisa hanya vaksin AstraZeneca dengan nomor bets CTMAV 547 saja yang dihentikan, dan jumlahnya mencapai 448 ribu dosis dari whole 3,8 juta dosis vaksin AstraZeneca yang sudah tiba ke Indonesia lewat program bantuan COVAX, WHO. Penyebabnya adalah vaksin AstraZeneca yang sudah berizin dibuat dari vektor virus, yang memicu antibodi melawan protein Spike dari varian virus corona awal. Menghadapi virus yang melakuan mutasi, antibodi tidak mengenali sepenuhnya dan memerangi varian bersangkutan. Sedangkan AstraZeneca atau AZD1222 seperti yang tertera di laman resmi WHO, disebut memiliki tingkat efikasi 63,09 persen dalam melawan infeksi Covid-19. Penyebabnya adalah vaksin AstraZeneca yang sudah berizin dibuat dari vektor virus, yang memicu antibodi melawan Protein Spike dari varian virus corona awal. Warga diimbau tidak panik dengan penghentian sementara distribusi dan penggunaan vaksin AstraZeneca kumpulan produksi CTMAV547.

Kalau dia disebabkan oleh vaksin pasti angka kejadiannya akan naik, ini tidak terjadi, kemudian bagaimana pun juga kita harus pantau hal ini, kita harus berhati-hati memantau secara serius, berkala. Riset keampuhan vaksin AstraZeneca terhadap virus varian mutasi Inggris yang disebut varian B117 yang dilakukan di Inggris, melaporkan efikasinya sekitar 75%. WHO sendiri telah mendesak negara-negara untuk tetap melanjutkan penggunaan vaksin COVID-19 tersebut.

Penghentian untuk sementara itu karena dugaan kejadian pasca ikutan imunisasi yang serius setelah diberikan vaksin AstraZeneca dari batch CTMAV547, yang menyebabkan dua orang meninggal. Wiku mengingatkan masyarakat bahwa vaksinasi COVID-19 tidak bisa mengurangi peluang terjadinya sakit atau kematian akibat faktor lainnya yang kemungkinan sudah dimiliki oleh penerima vaksinasi, seperti penyakit bawaan atau komorbid. Para peneliti memodifikasinya untuk mengandung materi genetik yang dimiliki virus corona, tapi tidak menyebabkan penyakit.

Liputan6.com, Jakarta Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan memutuskan untuk menghentikan sementara pendistribusian dan penggunaan vaksin AstraZeneca batch CTMAV547. WHO menyarankan, untuk sementara vaksin bisa digunakan untuk personal berusia di atas 18 tahun. Juga untuk mereka yang tergolong komorbid, yang menghadapi risiko tinggi mengalami gejala sakit berat jika terinfeksi Covid-19.

Vaksin Sinovac bekerja dengan memaparkan tubuh pada virus mati yang telah diobati dengan panas, bahan kimia, atau radiasi sehingga tidak dapat menginfeksi sel dan menggandakannya. Maka dari itu, ia pun mendorong seluruh masyarakat untuk segera divaksinasi COVID-19, terutama untuk kelompok masyarakat yang berusia 60 tahun ke atas atau lansia. Menurutnya, hal ini penting mengingat angka kesakitan dan kematian akibat COVID-19 pada lansia masih cukup tinggi. Pemerintah, kata Nadia, akan berusaha meningkatkan kecepatan penyuntikan vaksin COVID-19 dari semula 500 ribu penyuntikan per hari menjadi satu juta penyuntikan per harinya. “Vaksin ini bisa diberikan di atas 18 tahun malah juga untuk lansia (lanjut usia -red). Tetap dua kali diberikan, vaksin pertama, vaksin kedua dengan interval dikatakan oleh WHO 4-8 minggu,” katanya.

Comments are closed.