15 Nakes Ponorogo Positif Covid

15 Nakes Ponorogo Positif Covid

Pengecekan COVID-19 bisa dilakukan dengan berbagai tes pemeriksaan, namun setiap tes memiliki akurasi yang berbeda-beda. Masih banyak pertanyaan mengenai keabsahan pemeriksaan COVID-19, dari swab PCR dan rapid test serta hasil positif atau reaktifnya. “Orang di rumah baik ada gejala atau tidak ada gejala di tes swab sehingga tahu apakah tertular atau tidak. Lalu melakukan isolasi mandiri, dilakukan evaluasi pengobatan tes swab ulang apakah sudah sembuh atau belum,” kata Ngabila. Kasus meninggalnya tenaga kesehatan RSUD Ngudi Waluyo, Wlingi, Kabupaten Blitar pasca diinokulasi vaksin COVID-19, menjadi perhatian serius terhadap pemeriksaan riwayat kesehatan calon penerima vaksin. Pihak rumah sakit mengatakan meninggalnya nakes tersebut bukan akibat vaksinasi. Iris yang juga dokter spesialis penyakit dalam dari RSCM Jakarta, menjelaskan, antibodi yang terbentuk dari vaksinasi Covid-19 disebut sebagai antibodi netralisasi.

Sementara untuk vaksin dari Cansino, pemerintah sedang mendorong pengadaan sebanyak 5 juta dosis untuk 5 juta orang, sebab jenis vaksin ini hanya butuh satu kali suntikan. Sedangkan jumlah pasien Covid-19 yang sudah dirujuk ke rumah sakit 26 orang dengan rincian, dari Kelurahan Simpang Baru 18 orang, Kelurahan Bina Widya 4 orang, Kelurahan Sungai Sibam, 4 orang. Sembuh 50 orang yaitu dari Kelurahan Simpang Baru 23 orang, di Kelurahan Bina Widya 12 orang dan di Kelurahan Sungai Sibam 15 orang. Namun, kata dia, jika yang belum berstiker akan diperiksa secara random. Misalnya, isi mobil pemudik tersebut berjumlah lima orang, maka dua orang akan dilakukan pemeriksaan swab antigen. “ ketika dilakukan pemeriksaan ternyata surat hasil swab antigen ini palsu.

Apakah jika sudah vaksin ketika melakukan swab bisa menjadi positif?

Meski demikian, dibutuhkan waktu bagi tubuh mengenali cairan vaksin yang dimasukan dan untuk membentuk antibodi. Butuh waktu sampai vaksin bisa mencapai efek proteksi yang diharapkan, sehingga setelah vaksinasi kita harus tetap disiplin,demikian dikatakan dokter Tonang. Penyintas virus corona dan golongan lainnya mendapatkan dua dosis vaksin.

Dokter spesialis paru Universitas Sebelas Maret, Solo, dr. Tonang Dwi Ardianto. PhD., mengatakan itu sebabnya orang yang divaksinasi masih berpotensi positif Covid-19. Dan bisa saja saat proses penyuntikan vaksin dilakukan, orang tersebut sebenarnya sudah terinfeksi virus corona sebelumnya, hanya belum bergejala. Untuk pelaku perjalanan udara, hasil negatif rapid take a look at antigen berlaku maksimal sejak 2 x 24 jam sebelum keberangkatan.

Pada area ini antibodi yang terbentuk sebagai hasil pemberian vaksin tidak ada, sehingga kemungkinan memberikan hasil yang negatif. Pada tanggal 27 Mei 2020, WHO menerbitkan panduan tentang manajemen klinis COVID-19 dan memberikan rekomendasi terbaru tentang kriteria untuk penghentian isolasi pasien COVID-19. Kriteria yang diperbarui didasari oleh temuan-temuan baru bahwa pasien yang sudah tidak bergejala, ternyata masih menunjukkan hasil tes positif virus COVID-19 (SARS-CoV-2) dengan RT-PCR selama berminggu-minggu. Meskipun hasil tes-nya masih positif, ternyata tidak dapat menularkan pada orang lain.

Sedangkan vaksin yang mendapatkan persetujuan untuk penggunaan darurat berjumlah 8, termasuk vaksin Sinovac yang digunakan di negara kita.

Perkembangan antibodi dari vaksin dengan antibodi alami dari infeksi punya waktu yang berbeda. Dokter Tonang mengatakan, antibodi yang terbentuk dari infeksi alami memang lebih cepat terbentuk karena virus yang masuk ke dalam tubuh masih hidup. Ia menerangkan bahwa masa inkubasi infeksi Covid-19 selama 1 sampai 14 hari.

Kriteria untuk penghentian isolasi ini berlaku untuk semua kasus COVID-19, tidak tergantung lokasi isolasi maupun derajat beratnya penyakit dan tanpa memerlukan pemeriksaan swab ulangan. Untuk mendeteksi virus corona pada pasien di Indonesia, pemerintah menggunakan dua metode, yakni fast check dan swab tenggorokan. Selama ini test swab PCR dianggap sebagai metode diagnostik standar untuk mengonfirmasi penyakit Covid-19 yang disebabkan oleh virus SARS Cov-2. Tes swab PCR-real time ini menggunakan sampel asam nukleat untuk memastikan keberadaan virus SARS-Cov2. Sebagaimana dilansir dalam suatu tinjauan sistematis, sensitivitas PCR untuk deteksi virus SARS-Cov2 mencapai 86% dengan nilai spesifisitas 96%. Test swab PCR ini lebih akurat dibandingkan yang lain misalnya pemeriksaan antigen yang mengukur protein atau pemeriksaan antibodi yang mengukur Imunoglobulin atau IgG dan IgM.

Peneliti menemukan bahwa virus pada sampel yang memiliki CT Value lebih dari 34, tidak menyebabkan infeksi. Swab evaluasi dan isolasi lanjutan tetap disarankan pada pasien dengan derajat gejala berat, kritis, dan imunitas rendah serta mereka yang dirawat dengan kondisi pemantauan, khususnya di ICU. RT-PCR dengan syarat menambah 10 hari isolasi mandiri sejak pengambilan spesimen diagnosis . Bila Anda memiliki kondisi medis tertentu, silakan menghubungi layanan kesehatan terdekat di sekitar rumah atau datangi IGD terdekat.

“Walaupun beliau sudah memperoleh dua dosis untuk vaksinasi, memungkinkan seseorang bisa terpapar. Tapi tidak menimbulkan sakit dan gejala,” kata dia. Tim medis telah melakukan tracing untuk memastikan kondisi kesehatan keluarga Tatu. “Karena tidak bergejala jadi dilakukan isolasi mandiri agar lebih baik. Psikologis juga dekat dengan keluarga,” kata dia.

Comments are closed.